Komisi II DPRD Kalsel Tinjau SPBE Gas Lingkar Basirih

Komisi II DPRD Kalsel Tinjau SPBE Gas Lingkar Basirih

Banjarmsin,

Pasokan tabung Gas Elpiji 3 kg atau Gas Melon di satu Stasiun Pengisian Bahan Bakar Elpiji (SPBE) di wilayah Kalimantan Selatan (Kalsel) berkisar ribuan tabung per hari. Sehingga dipastikan pasokan gas melon itu mencukupi untuk masyarakat, khususnya bersubsidi. Namun, meski pasokan berlimpah masih saja terjadi kelangkaan, penyebabnya antara lain faktor cuaca yang menghambat pasokan dari Pertamina untuk pengisian di SPBE.

Karena itu, Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kalsel melalui Komisi II membidangi ekonomi dan keuangan, Senin (26/2) melakukan peninjauan ke salah satu SPBE di wilayah Banjarmasin.

Seperti di SPBE PT Jambo Mutiara Permata (JMP) di Lingkar Selatan Gubernur Soebarjo Banjarmasin, dari pantauan Ketua Komisi II DPRD Kalsel Suwardi Sarlan didampingi anggotanya Yadi Ilhami, pasokan gas melon dari SPBE ini per hari hingga 40 unit truk pengangkut elpiji milik para agen. Dimana satu truk ini mengangkut sebanyak 560 tabung yang berisi Gas Elpiji 3 kg untuk di distribusikan di Banjarmasin dan Pelaihari Kabupaten Tanah Laut (Tala).

Pantauan di lapangan, di SPBE JMP ini melayani sebanyak 12 agen, dimana 11 agen lebih banyak mendistribusikan gas melon ke wilayah Banjarmasin, sisanya satu agen memasok gas melon itu ke kota Pelaihari. Untuk pengisian gas melon paska terjadi kelangkaan dalam sepekan ini dimulai Senin (kemarin, red) sebanyak 40 rit atau 40 armada truk, sementara dalam kondisi normal sebanyak 35 rit atau 35 armada truk dengan kapasitas tangki timbun milik SPBE JMP ini 1.500 ton.

Manajer Operasional SPBE JMP Muhammad Ghani menuturkan pasokan Gas Elpiji 3 kg di SBPE JMP ini 60 metrik ton per hari atau 35 rit armada untuk penyaluran kota Banjarmasin dan satu armada ke Pelaihari. Namun, dalam seminggu ini kondisi pasokan gas elpiji di Kalsel terhambat karena cuaca, maka di SPBE ini yang kondisi normal rata-rata 35 rit per hari, maka setengah bulan kedepan menjadi 40 rit per hari.

“Kalau normalnya 35 armada per hari sekitar 60 metrik ton, kini ditambah 5 rit jadi sekitar 65 metrik ton,” kata dia.

Untuk penyebaran, lanjutnya sebanyak 34 rit di Banjarmasin dan satu rit ke Pelaihari dengan agen 11 Perseroan Terbatas (PT) asal Banjarmasin dan satu agen dari Pelaihari. Karena ada gangguan cuaca selama sepekan, semua SPBE ada peningkatan pasokan, seperti di SPBE Tapin, Barabai dan Kandangan. Sedangkan untuk subsidi di Banjarmasin ada tiga SPBE, yakni di Barito, Borneo dan JMP.

Untuk mengatasi kekurangan pasokan saat pengisian gas, kata dia, pihaknya ada komunikasi dengan Pertamina, kabar yang kami terima pihak Pertamina mengoptimalkan kedatangan kapal tangker untuk wilayah Kalsel.

“Kemungkinan setengah bulan kedepan normal,” tandasnya.

Ketua Komisi II Suwardi Sarlan mengakui kedatangan pihaknya ke salah satu SPBE ini untuk menjawab kerisauan masyarakat atas langkanya pasokan gas elpiji 3 kg, ternyata dipicu faktor cuaca hingga menghambat pasokan gas dari Pertamina.

Karena ada keterlambatan itu dalam sepekan, ujar Suwardi maka pasokannya ditambah guna memenuhi pasokan ke agen, pangkalan dan pengecer.

Agar tidak terulang kondisi seperti ini, imbuh politisi PPP ini pihaknya berharap kepada pemerintah daerah, baik gubernur, walikota dan bupati, agar bikin peraturan bupati atau peraturan walikota, seperti di Tarakan Kalimantan Timur.

“Perbup/Perwali itu untuk mengantisipasi yang tidak berhak mendapatkan jatah gas elpiji 3 kg khususnya bersubsidi,” terangnya.

Rombongan Komisi II bersama instansi terkait tak hanya meninjau salah satu SPBE milik JMP dan ke agen, tapi juga ke pangkalan milik H Riduan Syahrani di Jl Rantauan Darat Kelurahan Pekauman, dimana warga datang mengantre untuk dapat membeli satu tabung gas melon dengan satu kupon atau bon yang dibagikan masing-masing Ketua RT di sekitar lokasi pangkalan tersebut. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: