BALANGAN, HUMAS — Anggota DPRD Provinsi Kalimantan Selatan, H. Nor Fajeri, S.E., mendorong masyarakat untuk terus memperkuat kesadaran dan kepedulian terhadap kesehatan keluarga, khususnya dalam upaya mencegah stunting serta mengantisipasi gangguan kesehatan akibat paparan asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Hal tersebut disampaikan Nor Fajeri saat melaksanakan Sosialisasi Peraturan Daerah (Sosper) Provinsi Kalimantan Selatan Nomor 01 Tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Kesehatan di Desa Batu Mandi, Kecamatan Batu Mandi, Kabupaten Balangan, Jumat (18/9/2026).
Menurut Nor Fajeri, sosialisasi Perda merupakan bagian dari upaya DPRD untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat mengenai pentingnya penyelenggaraan kesehatan sekaligus mendorong keterlibatan masyarakat dalam menjaga kesehatan diri, keluarga dan lingkungan.
Ia menekankan, pencegahan stunting harus dilakukan sejak dini, bahkan sejak masa kehamilan. Karena itu, perhatian terhadap kesehatan ibu dan anak tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah dan tenaga kesehatan, tetapi juga membutuhkan peran aktif keluarga dan masyarakat.
“Kesehatan ibu dan anak harus kita jaga sejak awal. Jangan menunggu ada masalah baru kita bertindak. Pemeriksaan kehamilan, pemenuhan gizi, imunisasi, serta pemantauan pertumbuhan anak harus menjadi perhatian bersama,” ujar Nor Fajeri.
Ia menilai lingkungan desa memiliki peran penting dalam membangun kesadaran masyarakat terhadap kesehatan. Keluarga menjadi garda terdepan dalam memastikan ibu hamil mendapatkan pemeriksaan dan asupan gizi yang cukup, sementara anak memperoleh makanan bergizi serta pemantauan tumbuh kembang secara berkala.
Nor Fajeri juga mendorong bidan, kader Posyandu dan tenaga kesehatan di desa untuk terus memberikan edukasi serta pendampingan kepada masyarakat. Edukasi mengenai pola makan bergizi, kebersihan lingkungan, pola hidup sehat, pemeriksaan kehamilan, imunisasi dan pemantauan tumbuh kembang balita perlu dilakukan secara berkelanjutan.
Di sisi lain, Nor Fajeri mengingatkan masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi karhutla yang dapat berdampak langsung terhadap kualitas udara dan kesehatan masyarakat. Asap akibat kebakaran hutan dan lahan dapat meningkatkan risiko gangguan saluran pernapasan, termasuk infeksi saluran pernapasan akut (ISPA).
“Masyarakat harus bersama-sama mencegah karhutla. Jangan membuka atau membersihkan lahan dengan cara membakar, karena dampaknya bukan hanya terhadap lingkungan, tetapi juga terhadap kesehatan masyarakat,” tegasnya.
Ia mengimbau masyarakat untuk mengurangi aktivitas di luar rumah ketika kondisi udara dipenuhi asap, menggunakan masker apabila harus beraktivitas di luar ruangan, serta memberikan perhatian lebih kepada kelompok rentan seperti anak-anak, ibu hamil dan lanjut usia.
“Kalau sudah muncul asap, kita harus waspada. Kurangi aktivitas di luar rumah dan gunakan masker. Apabila mengalami keluhan seperti batuk, sesak napas atau gangguan pernapasan lainnya, segera periksakan diri ke fasilitas pelayanan kesehatan,” katanya.
Nor Fajeri menegaskan, upaya menjaga kesehatan masyarakat membutuhkan kolaborasi seluruh pihak. Pencegahan stunting, peningkatan kualitas lingkungan, pencegahan karhutla hingga perlindungan masyarakat dari dampak asap harus menjadi perhatian bersama.
“Pemerintah, tenaga kesehatan, kader, pemerintah desa dan masyarakat harus saling mendukung. Dengan kesadaran dan kepedulian bersama, kita dapat menciptakan lingkungan yang sehat, menjaga tumbuh kembang anak secara optimal dan mencegah berbagai penyakit yang dapat mengganggu kesehatan masyarakat,” pungkasnya.

